IHSG Melonjak ke Level 8.291 Usai Perayaan Imlek 2026

Rabu, 18 Februari 2026 | 11:02:16 WIB
IHSG Melonjak ke Level 8.291 Usai Perayaan Imlek 2026

JAKARTA - Pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang impresif pada pembukaan perdagangan Rabu pagi. Setelah merayakan libur hari raya Imlek, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tancap gas di zona hijau, mengikuti tren positif yang terjadi di bursa saham Amerika Serikat dan Eropa. Kenaikan ini membawa angin segar bagi para investor domestik yang menantikan momentum kebangkitan setelah indeks cenderung bergerak stagnan di periode sebelumnya.

Jakarta: Indeks Harga Saham Unggulan (IHSG) bangkit pada hari pertama sehari setelah perayaan hari raya imlek. IHSG naik 1,03 persen pada posisi 8.291 pembukaan Rabu, 18 Februari 2025 (catatan: sesuai teks asli). Kenaikan signifikan ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional di tengah fluktuasi pasar global yang masih diwarnai oleh kehati-hatian.

Dominasi Saham Blue Chip dalam Penguatan Indeks Unggulan

Laju impresif IHSG pada pagi ini didorong kuat oleh performa saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks-indeks utama. IHSG ditopang Indeks unggulan seperti LQ45 dan JII. LQ45 naik 0,98 persen. JII naik 0,33 persen. Saham BBCA, BBRI, BMRI, ASII, TLKM, dan UNVR mendorong kenaikan IHSG. Kembalinya minat beli pada saham perbankan dan infrastruktur ini menjadi motor utama yang menjaga indeks tetap kokoh di zona hijau.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi pada akhir pekan lalu, di mana pergerakan pasar cenderung lesu. Pada akhir pekan lalu IHSG ditutup stagnan di level 8.212,27. Pergerakan sektoral juga cenderung mendatar, termasuk sektor energi, bahan baku, industri, keuangan, hingga perbankan. Namun, pembukaan perdagangan hari ini membuktikan adanya pergeseran sentimen yang lebih positif dari para manajer investasi dan investor ritel.

Sentimen Mata Uang dan Indikator Risiko Indonesia

Di sisi lain, penguatan indeks saham tidak serta-merta diikuti oleh penguatan nilai tukar rupiah yang signifikan. Mata uang garuda masih mengalami tekanan tipis di hadapan dolar Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah berada di level Rp16.837 per dolar AS, melemah tipis 0,08%. Kurs referensi Jisdor tercatat di Rp16.844 per dolar AS. Meskipun terjadi pelemahan pada nilai tukar, premi risiko investasi di Indonesia masih terpantau cukup stabil.

Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di level 6,3998%. Sementara premi risiko Indonesia yang tercermin dari CDS 5 tahun berada di kisaran 81,65 basis poin. Angka-angka ini memberikan sinyal bahwa meskipun pasar saham sedang reli, investor tetap waspada terhadap perkembangan kebijakan moneter global yang dapat memengaruhi arus modal masuk ke pasar negara berkembang.

Pengaruh Wall Street dan Dinamika Bursa Saham Global

Pergerakan positif IHSG pagi ini sejatinya merupakan kepanjangan tangan dari sentimen yang terjadi di bursa saham Amerika Serikat, meskipun Wall Street sendiri bergerak dengan kecepatan yang terbatas. Bursa saham Amerika Serikat ditutup nyaris tak bergerak pada perdagangan Selasa waktu setempat. Indeks acuan S&P 500 hanya naik tipis 0,10% ke level 6.843, tertahan oleh pelemahan saham-saham sektor software yang membatasi ruang penguatan.

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,07% ke posisi 49.533, sementara Nasdaq Composite naik 0,14% ke 22.578. Meski ditopang penguatan sejumlah saham teknologi besar, tekanan pada emiten perangkat lunak membuat reli pasar tidak berkembang signifikan. Namun, ketenangan di bursa AS ini memberikan rasa aman bagi bursa Eropa yang justru mencatatkan lonjakan tajam. Indeks FTSE 100 melonjak 0,79% ke 10.566, DAX Jerman naik 0,80% ke 24.998, dan CAC 40 Prancis menguat 0,54% ke 8.362. Sementara itu di Asia, pasar bergerak variatif dengan Nikkei 225 Jepang terkoreksi 0,42% ke 56.565.

Koreksi Tajam di Pasar Komoditas Global

Kontras dengan penguatan di pasar ekuitas, pasar komoditas justru mengalami tekanan jual yang cukup dalam. Hal ini dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang naik 0,22% ke 97,13 dan kenaikan imbal hasil obligasi AS. Dari pasar komoditas, harga minyak mentah terkoreksi signifikan. Minyak WTI turun 2,63% ke USD62,92 per barel, sedangkan Brent melemah 2,89% ke USD67,59 per barel.

Harga emas juga tertekan secara tajam seiring dengan berkurangnya permintaan aset aman. Emas Comex turun 2,26% ke 4.899,60, sementara emas spot (XAU/USD) melemah 2,24% ke 4.880,05. Penurunan juga terjadi pada perak yang anjlok 3,90%, serta tembaga dan nikel yang terkoreksi masing-masing 1,42% dan 1,59%. Harga gas alam mencatat pelemahan paling dalam, turun 5,98% ke level 3,049.

Investor kini bersiap menghadapi sisa pekan perdagangan dengan sikap hati-hati. Meskipun IHSG mengawali hari dengan lonjakan, kombinasi penguatan dolar AS dan koreksi harga komoditas menjadi faktor risiko yang tetap dipantau secara ketat. Secara keseluruhan, pasar global bergerak hati-hati di tengah kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta koreksi harga komoditas. Investor kini menanti katalis baru yang dapat menggerakkan pasar lebih signifikan dalam beberapa hari ke depan.

Terkini