Logistik

KAI Logistik Perkuat Sektor Non-Batu Bara di Awal 2026

KAI Logistik Perkuat Sektor Non-Batu Bara di Awal 2026
KAI Logistik Perkuat Sektor Non-Batu Bara di Awal 2026

JAKARTA - Dinamika industri logistik nasional di awal tahun 2026 menunjukkan tren pergeseran yang menarik, di mana ketergantungan pada komoditas tambang mulai diimbangi oleh pertumbuhan sektor manufaktur dan ritel. PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) berhasil membuktikan ketangguhan model bisnisnya dengan menjaga stabilitas operasional di tengah fluktuasi pasar global. Strategi perusahaan untuk tidak lagi hanya mengandalkan "emas hitam" sebagai motor tunggal pendapatan mulai membuahkan hasil nyata. Melalui penguatan layanan angkutan peti kemas, distribusi bahan bakar, hingga jasa kurir, perusahaan pelat merah ini tengah membangun fondasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi ekosistem logistik berbasis rel di Indonesia.

Dominasi Batu Bara dan Stabilitas Performa Operasional

Memasuki bulan pertama di tahun 2026, volume angkutan barang yang dikelola oleh KAI Logistik menunjukkan angka yang cukup menjanjikan. Perusahaan mencatatkan kinerja pengelolaan angkutan barang yang relatif stabil pada awal 2026. Capaian ini menjadi indikator positif bahwa permintaan layanan distribusi menggunakan moda kereta api tetap menjadi pilihan utama bagi berbagai industri strategis di tanah air.

Secara akumulatif, volume yang berhasil ditangani perusahaan mencapai angka jutaan ton. Sepanjang Januari 2026, KAI Logistik mengelola total volume angkutan sebesar 1,1 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebesar 47 persen berasal dari segmen angkutan non batu bara, sementara sisanya masih didominasi komoditas batu bara. Hal ini menggambarkan bahwa meski diversifikasi terus digalakkan, sektor energi masih memegang peran krusial dalam struktur bisnis perusahaan.

Analisis Segmen Bisnis di Tengah Dinamika Global

Direktur Utama KAI Logistik, Yuskal Setiawan, menyampaikan capaian tersebut mencerminkan upaya perusahaan dalam menjaga performa operasional di tengah dinamika industri logistik. Tantangan yang dihadapi tidaklah sederhana, mengingat kondisi ekonomi global sering kali memengaruhi volume perdagangan komoditas utama. Namun, manajemen berhasil melakukan penyesuaian strategi agar target-target perusahaan tetap dapat tercapai secara optimal.

“Di awal tahun 2026, KAI Logistik mampu menjaga kinerja pengelolaan angkutan barang secara stabil. Angkutan batu bara masih mendominasi dengan porsi sekitar 53 persen atau setara dengan 590.000 ton,” ujar Yuskal dalam keterangan resmi, Kamis. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada penguatan di lini lain, batu bara tetap menjadi pilar yang memberikan volume besar bagi operasional kereta api barang.

Distribusi Berbagai Komoditas Strategis Non-Batu Bara

Keberhasilan KAI Logistik dalam menjaga keseimbangan portofolionya terlihat dari kontribusi berbagai segmen lainnya yang menunjukkan angka signifikan. Selain batu bara, KAI Logistik mencatatkan kinerja pada berbagai segmen lainnya. Diversifikasi ini mencakup mulai dari bahan bakar cair hingga limbah industri yang memerlukan penanganan khusus dan tingkat keamanan yang tinggi.

Layanan pra dan purna angkutan BBM dan BBK membukukan volume sebesar 266 ribu ton. Angkutan kontainer tercatat sebesar 222.000 ton, diikuti angkutan semen 32 ribu ton. Sementara itu, angkutan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) mencapai 594 ton dan layanan angkutan kurir sebesar 6.587 ton. Sebaran ini menunjukkan bahwa KAI Logistik telah mampu melayani spektrum kebutuhan industri yang sangat luas, dari skala korporasi besar hingga pengiriman ritel masyarakat.

Tantangan Fluktuasi Harga dan Penyesuaian Strategi

Yuskal menjelaskan, pada awal tahun ini terdapat penyesuaian kinerja pada segmen batu bara yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis perusahaan. Penyesuaian ini merupakan langkah responsif terhadap kondisi pasar luar negeri dan kebijakan domestik yang terus berkembang. Fleksibilitas dalam mengelola kapasitas angkutan menjadi kunci agar operasional perusahaan tetap efisien meskipun terjadi volatilitas pada salah satu komoditas.

“Kinerja pada segmen batu bara tidak terlepas dari dinamika industri termasuk kebijakan terkait serta fluktuasi harga batu bara global, yang menjadi tantangan tersendiri bagi industri logistik. Meski demikian, peningkatan kinerja pada segmen non batu bara dinilai mampu menjaga stabilitas perusahaan secara keseluruhan. Kontribusi angkutan non batu bara yang mencapai 47 persen menunjukkan semakin menguatnya portofolio layanan KAI Logistik,” jelasnya. Dengan komposisi ini, risiko bisnis perusahaan menjadi lebih terdistribusi dan tidak lagi terkonsentrasi hanya pada satu sektor saja.

Lonjakan Signifikan pada Sektor Kontainer dan Kurir

Data terbaru menunjukkan bahwa transformasi bisnis yang dilakukan KAI Logistik membuahkan pertumbuhan yang impresif pada segmen-segmen tertentu jika dibandingkan dengan data tahun lalu. Komposisi tersebut menunjukkan, hampir setengah dari total volume angkutan KAI Logistik kini berasal dari komoditas selain batu bara. Secara absolut, angkutan non batu bara pada Januari 2026 mencapai sekitar 517.000 ton dari total 1,1 juta ton.

Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sejumlah segmen non batu bara mencatatkan pertumbuhan positif. Angkutan kontainer meningkat 44 persen, dari 154.000 ton pada Januari 2025 menjadi 222 ribu ton pada Januari 2026. Layanan angkutan kurir atau bisnis ritel tumbuh 35 persen, dari 4.880 ton menjadi 6.587 ton. Sementara itu, angkutan limbah B3 meningkat 57 persen, dari 378 ton pada Januari 2025 menjadi 594 ton pada Januari 2026. Pertumbuhan yang sangat kuat pada angkutan kontainer dan limbah B3 menegaskan bahwa pelaku industri semakin percaya pada keamanan dan kecepatan kereta api untuk mengirimkan barang-barang bernilai tinggi dan berisiko tinggi.

Membangun Masa Depan Logistik Berbasis Rel

Tren pertumbuhan di awal 2026 ini memberikan optimisme baru bagi pengembangan infrastruktur logistik kereta api di Indonesia. Kenaikan permintaan pada layanan berbasis rel di luar komoditas batu bara, terutama untuk kontainer dan bisnis ritel, mengindikasikan bahwa integrasi logistik nasional semakin membaik. KAI Logistik terus berkomitmen untuk memperkuat layanan ini melalui inovasi teknologi dan perluasan jaringan agar dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dengan biaya logistik yang lebih kompetitif dan waktu pengiriman yang lebih terukur.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index